Selasa, 16 Juni 2026

Kado untuk Guru: Bentuk Terima Kasih yang Perlu Dipikirkan Kembali



Apakah Ucapan Terimakasih Harus Berbentuk Kado? 

Setiap akhir tahun ajaran, biasanya sekolah mengadakan acara perpisahan. Momen ini sering menjadi waktu yang penuh haru, karena siswa akan berpisah dengan wali kelas yang selama satu tahun mendampingi mereka. Sebagai bentuk ucapan terima kasih, tidak jarang siswa memberikan kado atau hadiah kepada wali kelasnya. Sekilas, budaya ini terlihat indah karena menunjukkan rasa hormat, penghargaan, dan kasih sayang kepada guru.

Namun, ada hal yang perlu kita pikirkan kembali. Dalam beberapa kasus, hadiah untuk wali kelas diberikan menggunakan uang kas kelas. Padahal, uang kas tersebut berasal dari iuran seluruh siswa, yang pada dasarnya juga berasal dari uang orang tua mereka. Artinya, uang tersebut adalah uang kolektif, bukan milik pribadi satu atau dua orang saja. Karena itu, penggunaannya seharusnya dilakukan dengan persetujuan semua pihak, baik siswa maupun orang tua.

Jika keputusan memberi kado hanya dibuat oleh sebagian orang, maka hal ini bisa menimbulkan rasa kurang nyaman. Ada siswa atau orang tua yang mungkin tidak setuju, tetapi merasa sungkan untuk menolak. Ada juga yang mungkin kondisi ekonominya sedang tidak mudah, tetapi tetap merasa harus ikut karena takut dianggap berbeda. Di sinilah pentingnya musyawarah, keterbukaan, dan kerelaan dalam menggunakan uang bersama.

Selain itu, budaya memberi kado kepada wali kelas juga bisa menimbulkan kecemburuan di antara guru. Guru yang mendapat kesempatan menjadi wali kelas mungkin menerima hadiah dari siswanya, sedangkan guru lain yang juga mengajar dan berjasa kepada siswa tidak mendapatkan hal yang sama. Padahal, pendidikan seorang anak tidak hanya dibentuk oleh wali kelas, tetapi juga oleh banyak guru lain yang ikut membimbing mereka.

Dari sudut pandang syariat Islam, memberikan hadiah sebenarnya adalah hal yang baik apabila dilakukan dengan niat yang tulus, tidak memberatkan, dan berasal dari harta yang jelas kerelaannya. Namun, jika hadiah tersebut berasal dari uang bersama, maka harus dipastikan bahwa semua pihak benar-benar ridha. Uang kas adalah amanah, sehingga penggunaannya tidak boleh sembarangan. Jangan sampai niat baik untuk berterima kasih justru menimbulkan ketidakadilan, rasa terpaksa, atau perasaan tidak nyaman.

Sebenarnya, ucapan terima kasih kepada guru tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk hadiah. Siswa bisa memberikan surat ucapan terima kasih, video kenangan, doa bersama, atau hadiah sederhana yang bersifat simbolis. Jika tetap ingin memberikan kado, sebaiknya dana yang digunakan berasal dari sumbangan sukarela pribadi atau kelompok, bukan dari uang kas yang sifatnya wajib atau kolektif tanpa persetujuan dari semua pihak. 


Berpotensi Menimbulkan Kecemburuan 

Jadi, hadiah yang diberikan dari uang kas kelas berpotensi menimbulkan kecemburuan, bukan hanya di kalangan sesama guru, tetapi juga antara orang tua siswa dan pihak guru. Hal ini terjadi karena kondisi ekonomi setiap orang tua siswa tidak sama. Ada orang tua yang mungkin mampu dan merasa tidak keberatan, tetapi ada juga orang tua yang sebenarnya masih harus mempertimbangkan banyak kebutuhan lain dalam keluarganya.

Dan sebenarnya, kalau hadiah itu diberikan kepada guru yang memang kondisi ekonominya kurang baik, mungkin sebagian orang tua masih bisa memahami. Dalam keadaan seperti itu, pemberian hadiah bisa dimaknai sebagai bentuk kepedulian dan rasa empati. Orang tua pun biasanya akan lebih mudah merasa ikhlas, karena hadiah tersebut bukan hanya sebagai ucapan terima kasih, tetapi juga sebagai bentuk perhatian kepada guru yang mungkin kehidupannya masih sederhana.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika guru yang diberi hadiah sebenarnya memiliki kondisi ekonomi yang cukup baik, bahkan terlihat lebih mampu dibandingkan sebagian orang tua siswa. Misalnya, guru tersebut setiap hari datang ke sekolah dengan kendaraan yang nyaman, diantar oleh suaminya, atau memiliki kehidupan yang tampak berkecukupan. Sementara itu, ada orang tua siswa yang untuk mengantar anak ke sekolah saja masih harus mempertimbangkan biaya, waktu, dan tenaga. Ada yang harus naik motor sendiri, ada yang harus meminta bantuan orang lain, bahkan ada yang perlu mengeluarkan biaya tambahan hanya agar anaknya bisa sampai ke sekolah.

Dalam kondisi seperti ini, wajar apabila muncul pertanyaan: apakah penggunaan uang kas untuk membeli hadiah pribadi kepada guru sudah benar-benar tepat? Sebab uang kas tersebut berasal dari iuran bersama, bukan dari uang pribadi satu orang saja. Apalagi tidak semua orang tua memiliki kondisi ekonomi yang sama. Ada yang mungkin terlihat setuju, tetapi sebenarnya merasa sungkan untuk menolak. Ada juga yang mungkin memilih diam karena tidak ingin dianggap tidak kompak atau tidak menghargai guru.

Menurut saya pribadi, apabila masih ada sisa uang kas, akan lebih baik jika uang tersebut digunakan untuk kepentingan yang manfaatnya lebih luas. Misalnya disumbangkan untuk sekolah, membeli perlengkapan kelas, memperbaiki fasilitas belajar, membeli cat, papan tulis, buku bacaan, alat kebersihan, atau bahkan perlengkapan lain yang bisa digunakan bersama. Dengan begitu, uang kas benar-benar kembali kepada kepentingan siswa dan lingkungan sekolah, bukan hanya menjadi hadiah pribadi untuk satu orang.

Memberi hadiah kepada guru memang bukan hal yang salah, selama dilakukan dengan sukarela, ikhlas, dan tidak memberatkan. Namun, jika sumber dananya berasal dari uang kas, sebaiknya penggunaannya benar-benar dimusyawarahkan dengan jelas bersama seluruh orang tua. Karena uang bersama adalah amanah, maka penggunaannya juga harus berdasarkan kerelaan bersama. Jangan sampai niat baik untuk berterima kasih justru menimbulkan rasa tidak nyaman, keberatan, atau ketidakadilan bagi sebagian pihak.

Penutup

Tulisan ini sebenarnya bukan bermaksud untuk menyudutkan pihak tertentu, baik guru yang menerima kado perpisahan maupun orang tua yang ikut memberikan. Tulisan ini semata-mata dibuat sebagai bahan introspeksi bersama, agar budaya memberi hadiah kepada guru dapat dikaji ulang dengan lebih bijak. Terutama jika hadiah tersebut berasal dari uang kas kelas, maka perlu dilihat kembali apakah penggunaannya sudah sesuai dengan prinsip keadilan, kerelaan, dan amanah.

Dalam hal ini, yang ingin dibahas bukanlah pribadi gurunya, melainkan sistem atau kebiasaan yang sudah berjalan. Memberi hadiah sebagai bentuk ucapan terima kasih tentu merupakan niat yang baik. Namun, dalam syariat Islam, niat baik juga perlu diiringi dengan cara yang baik. Apalagi jika dana yang digunakan berasal dari uang bersama, maka harus dipastikan bahwa semua pihak benar-benar ridha dan tidak ada yang merasa terpaksa.

Karena itu, tulisan ini lebih bertujuan untuk mengajak kita semua berpikir kembali: apakah budaya memberi kado perpisahan kepada guru sudah dilakukan dengan cara yang tepat, adil, dan tidak memberatkan siapa pun? Jika memang ingin memberi hadiah, sebaiknya dilakukan secara sukarela, transparan, dan berdasarkan kesepakatan bersama. Dengan begitu, ucapan terima kasih kepada guru tetap menjadi sesuatu yang indah, tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman di antara pihak-pihak yang terlibat.



Minggu, 09 November 2025

Menghapus Informasi Properties EXIF dari File Jpeg

Assalammu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh 

Mungkin teman-teman sudah mengetahui dari setiap file foto yang diambil dari Ponsel atau Camera Digital itu akan otomatis menyimpan informasi tersembunyi yang disebut EXIF (Exchangeable Image File Format). Jenis informasi tersebut bisa berupa: Device Name, Tanggal dan Waktu, Lokasi (GPS), Tipe File, Read Only Enable/Disable, dan lain-lain. Untuk melihat Properties melalui Windows Explorer adalah file-nya di klik kanan lalu klik Properties atau tekan Alt + Enter. Lalu pilih Tab "Details" dan scroll ke bawah di bagian "Camera" akan terlihat nama Camera, model, Exposure, ISO, dan lain-lain. Dan scroll lagi ke bawah maka akan terlihat lokasi dari bagian "GPS" nya. 

Nah bagi kebanyakan orang (termasuk saya) ini merupakan privasi. Lalu bagaimana cara kita menghapus EXIF File tersebut? Sebenarnya bisa tinggal hapus aja dari jendela properties tersebut. Lalu kalau file-nya ratusan? Tentunya akan sangat melelahkan. 

Kali ini saya mau share pengalaman saya memakai EXIF Tool. Aplikasinya hanya 57 KB. Sangat kecil karena running melalui Command Prompt-nya Windows. APlikasi ini dibangun memakai bahasa pemrograman Perl. Bisa running di Windows, MacOS dan Linux. Namun yang saya bahas adalah memakai Windows karena memang saya lebih terbiasa memakai Windows, meski di kantor ada Macbook Pro. 

Langsung saja langkah-langkah penggunaannya: 

1. Download melalui exiftool.org 
2. Pilih download dari kotak Windows. Dan pilih tipe OS nya 32 bit atau 64 bit. 

Exif Tool Website in 2025

Selasa, 12 Maret 2024

Wisuda UII dan Sumpah Profesi Psikolog


 Assalammu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Teman2, lama tak mengisi blog ini. Jadi terakhir postingan blog ini sebelum aku masuk ke UII. Sekilas saja perjalananku di UII itu dimulai tahun 2013 saat itu aku diterima di unit Badan Sistem Informasi (BSI). Yup pertama kali aku bingung BSI bukannya kampus Bina Sarana Informatika? Ternyata bukan itu yang dimaksud. 

Jadi BSI ini adalah Pusat Komputer (Puskom)-nya UII. Saat itu jumlah personilnya sekitar 25 orang termasuk pimpinan unit. Sekarang sudah tembus 80 orang. Makanya aku yang udah lama disana pada tahun 2019 dipindah ke Fakultas Teknologi Industri (FTI). 

Di FTI banyak pengalaman yang luar biasa berkesan menurutku. Yang pertama adalah Pandemi Covid 19 yang kedua adalah Pak Bos Raf'ie dimana beliau adalah atasan saya dan yang ketiga adalah rekan kerja saya ditimpa musibah yakni anaknya memilih untuk mengakhiri hidupnya. Sepertinya tak perlu saya ceritakan disini. Semuanya sama pertanyaannya, "kok bisa?". Ya namanya kekuasaan Allah tidak terbatas, hal-hal yang tidak kita duga pun bisa terjadi. 

Selain itu banyak pengalaman berkesan lainnya misalnya merubah ruang kelas dari konvensional memakai projector menjadi memakai Interactive Flat Panel (IFP). Terimakasih kepada pimpinan FTI saat itu dimana saya bisa merasakan nuansa ruang kelas yang berbeda. FYI ada 40 lebih IFP yang dipasang saat itu. Memang tidak semua ruang kelas tapi itu cukup membantu menurut saya. 

Di tahun lalu, 2023, saya pindah unit ke Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB). Nah saya mau menceritakan sedikit tentang Wisuda UII tanggal  9 Maret 2024 lalu. Terus terang saya sangat jarang masuk kantor ketika acara wisuda. Baru di FPSB ini saya masuk kantor. Itupun bukan bertugas tapi diundang acara prosesi di fakultas siang hari setelah paginya acara Wisuda Universitas. 

Kalau masih bingung, jadi pagi hari sampai jam 11-an itu acara wisuda universitas di Gedung Auditorium Abdul Kahar Muzakkir. Nah siangnya fakultas (tepatnya Prodi) punya acara sendiri namanya Sumpah Profesi Psikolog. Yup ini adalah acara Prodi Magister Profesi Psikolog atau yang sering disingkat Mapro. Jadi untuk pendidikan profesi, perlu ada pengucapan sumpah profesi.

Di UII ada tradisi mengarak Wisudawan dari Gedung Auditorium menuju ke Fakultasnya masing-masing. Mereka berangkat per kelompok yakni sesuai prodinya. Masing-masing prodi ini memiliki yel-yel berbeda. Pada saat pandemi tentunya tradisi ini ditiadakan. Baru pada akhir 2022 diperbolehkan kembali. 

Pada periode wisuda sebelumnya, saya tidak melihat ada arak-arakan wisudawan ini. Berikut dokumentasinya: 

Minggu, 25 Desember 2011

Profil Rolls-Royce Dan Proses Pembuatan Mesin Boeing 787 Dreamliner

Rolls Royce pada awal tahun 1970 terkenal dengan pabrik pembuat mobil meskipun aslinya adalah pabrik pembuat mesin pesawat seperti pesawat tempur PD II, Harier Jumbo Jet, dan Concorde. Pesaing terberatnya adalah General Electric.


Sabtu, 24 Desember 2011

Perjalanan Udara Masa SD

Ketika melihat video ini aku jadi teringat masa2 SD dulu
Masa2 dimana sering terbang bersama Sempati Air.



Aku mulai sering terbang dengan Sempati sejak tahun 1994. Sebelumnya aku dan keluargaku biasanya naik Merpati atau Garuda (kalau kehabisan tiket, maklum sejak dulu Garuda selalu yg termahal )
Biasanya sih naik Fokker F-28. Ya biasanya ke Jogja transit di Jakarta.

Sejak 1994 keluargaku lebih sering naik Sempati dengan Fokker F-100-nya. Tahun 1995 aku lupa bulannya pokoknya liburan panjang Caturwulan kenaikan kelas (Cawu 3), ada yg masih ingat?
Itu adalah pertama kali aku naik pesawat sendiri. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 2 SD. Bersama kru Sempati dari Bandara Simpang Tiga Pekanbaru* aku diantar sampai ke pesawat F-100 dengan dikalungi semacam Co-Card bertuliskan "UM".

Jumat, 24 Juni 2011

Sayangi Orang Tuamu Seperti Mereka Menyayangimu Sewaktu Kamu Masih Kecil

Dua buah kisah yang mengharukan. Ingatlah selalu orang tua yang telah merawat dan membesarkan kita.


Kisah Pertama

Seorang Ibu terduduk di kursi rodanya suatu sore di tepi danau, ditemani anaknya yang sudah mapan dan berkeluarga.